HADAPI GLOBALISASI BUDAYA LEWAT SEBLANG BANYUWANGI


Isu globalisasi selalu menjadi hangat dan menyebar hingga ke sistem masyarakat, salah satunya budaya. Globalisasi mempercepat interaksi budaya dan memfasilitasi transmisi nilai dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Ketahanan budaya sering digunakan untuk menunjukkan peran budaya yang dapat dimainkan sebagai sumber daya untuk ketahanan individu. Ketahanan budaya akan melemah apabila sistem budaya melemah. Survei Lemhannas (2016) menunjukkan gatra sosial budaya mengalami penurunan 6% dan Indeks Ketahanan Nasional Indonesia (2016) berada pada posisi kurang tangguh.

Disisi lain, Kabupaten Banyuwangi memiliki kebudayaan yang khas dan beragam yang masih dilestarikan hingga kini, yakni Seblang yang merupakan ritual adat suku Osing. Seblang adalah ritual yang dilakukan untuk penyucian desa, penolak balak, sebagai rasa syukur terhadap nikmat berupa hasil panen yang diwujudkan melalui tarian mistik. Diceritakan dimana sebelum dilaksanakan untuk pertama kalinya di Desa Olehsari tahun 1930, ritual Seblang dilaksanakan secara rutin setiap tahun di Desa Kemiren. Awalnya, penduduk Desa Kemiren (Mbah Tompo) membeli seperangkat alat kesenian Barong lengkap dengan gamelannya.  Beberapa waktu setelahnya, tiba-tiba Mbah Sapuah (penari Seblang), mengalami kesurupan. Jin yang menyusup ke raga Mbah Sapuah menghendaki agar ritual Seblang dipindahkan ke Desa Olehsari karena di Desa Kemiren sudah ada kesenian Barong. Ritual Seblang di Desa Olehsari diselenggarakan satu minggu setelah Idul Fitri dan di Kelurahan Bakungan diselenggarakan satu minggu setelah Idul Adha.

Seblang merupakan ritual simbolik yang syarat makna. Simbol tersebut perlu diungkap agar lebih dipahami dan menjadi pedoman masyarakat untuk menjalankan norma-norma kolektif sebagai upaya memperkuat solidaritas sosial. Solidaritas sosial yang kuat akan memperteguh cultural resilience (ketahanan budaya) untuk menghadapi globalisasi kebudayaan.

Fenomena tersebut membuat mahasiswa Univesitas Negeri Surabaya tertarik untuk meneliti dengan perspektif yang berbeda terhadap makna ritual Seblang. Oleh karena itu, peneliti yang terdiri dari Asha (Ilmu Komunikasi), Kholid Mabruri (Administrasi Publik), dan Nurul Komariah (Pendidikan IPS) mendapat kesempatan meneliti melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Sosial Humaniora dari Dikti dengan judul “Meretas Nilai Filosofis Ritual Seblang Banyuwangi Sebagai Strategi Cultural Resilience Menghadapi Globalisasi Budaya”.

Seblang berasal dari kata ‘Seb’ artinya diam dan ‘Lang’ artinya langgeng, sehingga Seblang diartikan sebagai penari diam dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Ada pula versi yang mengatakan dari singkatan “Sebele Ilang” yang berarti sialnya hilang. Ritual Seblang digelar untuk memohon doa, keselamatan, dan kesuburan kepada sang pencipta. Ritual Seblang sebagai tasyakuran kampung untuk mensejahterakan masyarakat, menghindarkan dari marabahaya, menumbuhkan rasa kekeluargaan, dan solidaritas antarwarga sehingga tali silaturrahmi tetap terjaga.

“Biasanya lama tidak datang ke saudara yang ada di Bakungan mumpung ada acara itu sekalian datang bawa gula bawa kopi bawa beras, kemudian disana nanti makan bersama. Silaturrahmi itu sudah dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan 2 rahmat, panjang umur dan tambahan rizqi. Hal ini juga yang bisa menjauhkan bala dari masyarakat”, ungkap Abdullah Fauzi, Seksi Adat dan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Dekorasi yang penuh dengan hasil bumi sebenarnya merupakan sesaji yang disyaratkan dalam ritual salah satunya adalah sesaji poro bungkil. Sesaji ini merupakan simbol keselamatan yang digantung di sekeliling arena pertunjukkan yang merupakan hasil bumi sebagai manifestasi rasa syukur atas keberhasilan bercocok tanam.

Krono koyok e iku biyen ngene, lek umpomo penghasilan ku iki apik ngunu lo aku ape bersih deso selametan. Makane sesajene porobungkil dijukuki iku ngunu. Dadi porobungkil iku dijukuki poro buah-buahan teko penghasilan tani iku kabeh dijukuki. Dadi istilahe iku bersih deso, syukuran lan ngeten-ngeten”, jelas Pak Akwan, Pawang Seblang.

Selain itu, bersih desa yang menjadi rangkaian ritual Seblang bertujuan menghindarkan desa dari segala bala penyakit dan marabahaya. Ada pula Adol Kembang, dimana pelaku Seblang menjual bunga, yakni Kembang Dermo.

“Berapa? Sak dermane sak geleme sak karepe sak ikhlase. Sak kembang sak sunduk isine kembang telu wenei sak juta yo syukur sek penting ikhlas timbang sewu tapi nggrundel”, papar Abdullah Fauzi, Seksi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Dermo berarti sekadarnya artinya menjual bunga tidak disertai harga. Masyarakat setempat meyakini jika menyimpan Kembang Dermo, maka keinginan akan tercapai.

Penelitian yang berlangsung selama 3 bulan serta mengambil lokasi di Desa Olehsari dan Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi ini, secara filosofis menghasilkan temuan menraik bahwa ritual Seblang mengajarkan meskipun saat ini merupakan era globalisasi dengan kemajuan teknologi, jangan pernah melupakan untuk selalu menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Artinya, terdapat hubungan yang logis antara manusia dengan alam. Apabila manusia menjaga keseimbangan alam, maka alam akan memberikan kesejahteraan bagi manusia. Namun, apabila manusia merusak alam, maka alam akan murka dan manusia akan mengalami kesengsaraan.

Ritual Seblang harus tetap dipertahankan keberadaanya sebagai identitas kultural dan sosial dalam rangka mewujudkan ketahanan budaya (cultural resilience). Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk mewujudkan ketahanan budaya dari temuan penelitian, antara lain; Pertama, internalisasi melalui media pendidikan dalam muatan lokal berbasis kearifan lokal. Kedua, rebranding wisata budaya berbasis nilai filosofis Seblang dan menerbitkan buku Seblang. Ketiga, sinergi lintas sektor antara pemerintah desa, tokoh adat, dan pemuda desa (Karang Taruna dan Sanggar Tari). Keempat, transformasi ritual Seblang dalam kemasan menarik dan penawaran paket wisata Seblang.