Diskusi Ilmiah Sebagai Upaya Peningkatan lingkungan Akademik Kampus

– Salah satu upaya yang dilakukan Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya untuk terus meningkatkan lingkungan akademik yang baik untuk mahasiswa maupun dosen, yaitu dengan mengadakan diskusi ilmiah yang dikemas dalam acara kuliah tamu maupun bedah buku. Ada 6 acara diskusi ilmiah yang sudah disiapkan Jurusan Pendidikan Sejarah untuk meningkatkan jiwa akademis dan daya kritis dosen dan mahasiwanya, salah satu diantaranya yaitu kuliah tamu yang mengangkat tema “Living Heritage and World Culture Activity” yang dilaksanakan di Aula Srikandi FISH Unesa (22/03/2018).

Dalam sambutannya Hanan menambahkan, bahwa sudah seharusnya mahasiswa menyukai acara diskusi ilmiah seperti ini, karena di sana akan banyak didapatkan pengetahuan-pengetahuan baru yang mungkin belum didapat sebelumnya. Maka dari itu, Dr. Akiko Nozawa, Ph.D dari Nagoya University Jepang dihadirkan sebagai narasumber  yang khusus akan membahas persoalan-persoal kebudayaan di dunia.  “Jadi untuk mahasiswa yang menempuh Sejarah Kebudayaan Indonesi (SKI) atau Sejarah Kebudayaan Dunia (SKD) sudah seharusnya mengikuti forum diskusi seperti ini,” ujar Hanan.

Ini bukan kali pertama Akiko ke Indonesia, lulusan S-3 dari Nagoya University (Jepang)  dan University of Michigan (USA) tersebut mengaku bahwa ketertarikannya kepada kebudayaan Indonesia seperti di Bali berawal ketika ia jalan-jalan ke Indonesia pada 1993. “Saya tertarik dengan Budaya Indonesia, jadi saya sering bolak-balik Jepang-Indonesia untuk belajar bahasa dan seni seperti tari, musik, dan upacara-upacara sampai sekarang” ujar Akiko dengan menggunakan Bahasa Indonesia walaupun masih terbata-bata .

Nasution, M.Hum., M.Ed., Ph.D., yang merupakan lulusan S-3 dari Hyogo University (Jepang) menjadi moderator sekaligus translator (penerjemah) dalam  diskusi yang mengulas topik tentang konsep baru living heritage (warisan budaya hidup, seperti Candi Borobudur, angklung, dan wayang) dan contoh-contoh kegiatan budaya di masyarakat lokal (Bali/Indonesia, Jepang, dan Amerika).

Akiko menyampaikan bahwa “Living Heritage “berdasar pikiran terbuka, bukan konsep sekedar konservatif  cuma untuk menjaga peninggalan masa lalu atau untuk bangsa sendiri saja. “ Kalau Kita dapat menghidupkan budaya tradisional untuk kebutuhan realitas masyarakat, perilaku itu akan memberikan baik kepada masa depan dan kedamain dunia”, jelas Akiko.

Drs. Hanan Pamungkas, MA, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah mengatakan bahwa acara  ini merupakan kelanjutan dari dua acara sebelumnya yang membahas tentang sejarah perkembangan gapura bentar yang disampaikan oleh Prof. Dr. Aminuddin Kasdi, M.S.,  (09/03/2018) dan acara bedah buku “Publik History: Sebuah Panduan Praktis”, (13/03/2018) yang diulas oleh Adrian Perkasa dan Henri Nurcahyo. (Inayah/RN)