Belajar Sejarah Era Kolonial Bukan Hanya Perjuangan Saja

Pendidikan Sejarah – Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya peringati hari pendidikan nasional dengan menyelenggarakan kuliah tamu yang mengangkat tema “Kolonialisme dalam Perspektif yang Berbeda”, pada Rabu, (02/05/2018).

Kuliah tamu yang digelar di Aula Srikandi FIS-H Unesa dihadiri oleh Sejarawan sekaligus Kepala Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Dr. Sri Margana, M. Phil., Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah Drs. Yohanes Hanan Pamungkas, M.A, para dosen dan mahasiswa yang mengampu mata kuliah Sejarah Nasional Indonesia Masa Kolonial.

“Acara kuliah tamu merupakan pengayaan materi. Jurusan ini sering mengadakan kuliah tamu agar mahasiswa itu lebih bisa mengembangkan materi keilmuannya. Sebenarnya tidak hanya mahasiswa, tapi dosen juga harus mengembangkan materi keilmuannya,” ujar Hanan.

Hanan juga menambahkan melalui kegiatan kuliah tamu seperti ini, kita bisa mengetahui seberapa kedalaman materi yang kita kuasai untuk nantinya dipakai sebagai bahan pembelajaran.

Margana selaku narasumber mengungkapkan bahwa kedatangan bangsa kolonial ke Indonesia tidak hanya membawa misi kolonilasme, tapi juga membawa misi peradaban. Mereka memberikan pendidikan, membangun gereja, rumah sakit, memberantas berbagai penyakit, membawa tim sepak bola Hindia-Belanda ke Fifa dan lain sebagainya.

Menurut Dosen yang mengajar di UGM tersebut, hampir semua bangsa di dunia ini mengakui bahwa kolonialisme itu sesuatu yang salah, sesuatu yang jahat, dan buruk. Itu memang benar adanya. Selama perode Kolonial di Indonesia, seharusya yang kita pelajari tidak hanya mengenai penjajahan dan bagaimana perlawanan melawan penjajah. Kalau hanya seperti itu maka tidak banyak hal yang bisa kita pelajari.

“Tapi kita juga harus tahu kenapa kita bisa sampai dijajah? Kenapa kolonialisme itu kok bisa terjadi? Bagaimana Bangsa Belanda yang kecil dan jauh disana jumlahnya sedikit bisa menguasai bangsa Indonesia yang luas?” tegasnya.

Diantara penyebabnya, ungkap Margana, hal itu karena kita memiliki akar sejarah dan kebudayaan politik yang jelek yang dalam sejarah tidak ditonjolkan.

“Kan yang memberi kesempatan Belanda datang kesini ya elit-elit lokal sendiri. Tapi orang-orang yang memberikan kesempatan Belanda masuk ke Indonesia itu tidak dicatat dalam sejarah. Malah penjajahan dan perlawanan melawan penjajah saja yang ditonjolkan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Margana beralasan kuliah tamu mengenai kolonialisme dalam perspektif yang berbeda perlu diberikan kepada mahasiswa, terutama karna mahasiswa Pendidikan Sejarah setelah lulus akan menjadi guru atau dosen.  Artinya mereka harus memperluas substansi dalam mempelajari sejarah, khususnya sejarah periode kolonial.

“Selama ini kan substansi mengenai pengetahuan periode kolonial atau kolonialisme itu sangat terbatas pada masalah penjajahan dan perlawanan terhadap penjajah saja. Sementara itu aspek-aspek lain dari kolonialisme itu kurang dipelajari. Termasuk bagaimana kolonialisme itu bisa terbentuk dan unsur-unsur apa saja yang bisa dipelajari dari kolonilasme itu kurang diperluas,” jelasnya.

Sejarawan UGM itu berharap dari kuliah ini mahasiswa akan memperluas sendiri bacaannya dalam mempelajari praktik kolonialisme di Indonesia.

Dr. Wisnu, M.Hum selaku moderator mengatakan bahwa Indonesia memiliki masa lalu sejarah dan budaya yang sering bertengkar, budaya yang sering berkonflik antar sesama. Oleh karena itu, Wisnu berharap agar pengalaman masa lalu yang jelek itu kita jadikan sebagai pelajaran.

“Ayo kita bangun budaya yang positif, budaya yang lebih baik, dan lebih baik lagi  . Tidak usah bercarut-marut berkonflik ria antar sesama bangsa Indonesia” ajak Wisnu yang merupakan lulusan Sejarah S-3 UGM. (Inayah/RN)