PEMIRA DAN PROBLEMATIKA DI DALAMNYA

Berbicara soal politik memang tidak pernah ada habisnya. Selalu ada saja hal baru yang membuat politik menjadi trending topic. Politik tidak hanya terjadi dalam susunan pemerintahan negara, melainkanjuga terdapat dalam kehidupan kampus. Kampus diibaratkan sebagai miniatur sebuah negara yang terdapat BEM yang menjadi badan eksekutif, DPM sebagai badan legislatif dan mahasiswa sebagai masyarakatnya. Pemilihan Umum Raya atau PEMIRA baru saja dijalankan UNESA untuk memilih Calon Ketua BEM, Ketua Himpunan, dan DPM. Pemira yang diadakan pada 21 Maret 2018 lalu merupakan sebuah pembelajaran dan sebagai wawasan kepada mahasiswa untuk mengenal politik kampus sebelum terjun langsung di masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Tsamara Amany bahwa politik sangat berpengaruh dan menentukan kehidupan manusia. Oleh karena itu, setidaknya penting bagi mahasiswa untuk memahami atau setidaknya mengetahui bagaimana dinamika politik yang ada saat ini, terutaman dalam kehidupan kampus. Perlu disadari juga bahwa nantinya baik kebutuhan sandang, pangan dan papan adalah produk atau hasil dari politik itu sendiri. Maka dari itu, partisipasi seorang mahasiswa sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Dalam dinamika kehidupan politik di kampus dimana kampus sendiri diibaratkan sebagai miniatur sebuah negara dirasa masih memiliki kekurangan. Termasuk juga didalamnya adalah Pemira yang “terlihat” lancar dan baik-baik saja. Ada beberapa hal yang memang salah dan harus disempurnakan. Pertama adalah mengenai dana kampanye. Dalam sebuah pesta demokrasi, kampanye memang menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap pasangan calon. Meskipun memang terlihat sepele dan tidak penting, dalam pembelajaran demokrasi yang jujur diperlukan aturan demikian. Dengan harapan nantinya masyarakat tidak terbiasa dengan anggaran dana kampanye yang seolah-olah ditutupi. Kedua adalah mengenai sistem partai. Untuk sistem partai sendiri masih menjadi pro dan kontra mengingat cukup rumit untuk membentuk sebuah partai. Namun hal tersebut tidak akan menjadi masalah selama pelaksana atau MPM selaku pemberi rekomendasi mampu menawarkan konsep dan kebijakan yang matang.
Pemira 2018 ini juga masih memiliki kelemahan dalam hal partisipasi mahasiswanya. Contoh saja di Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum yang mempunyai DPT (Daftar Pemilih Tetap) sekita 3.000 mahasiswa namun hanya sekitar 1.200 yang menyumbangkan suaranya dalam pemira. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada faktor lain yang juga menjadi salah satu penyebab problematika dalam pemira. Beberapa orang yang menjadi perwakilan dalam setiap jurusan menyebutkan bahwa kurang terjun langsungnya seorang calon Presiden Mahasiswa untuk memperkenalkan program kerja dan visi misinya menjadi hal yang sangat ingin dirasakan ketika Pemira ini berlangsung. Jika memang itu dilakukan maka kedekatan antara pemilih dan calon akan terjalin melalui kampanye tersebut. Nantinya jika ketiga hal yang dianggap sebagai kekurangan ini berjalan beriringan dengan baik dan dapat diberlakukan di Unesa tentunya sistem baru akan muncul. Sistem baru tersebut kemudian juga akan membawa kemajuan bagi demokrasi yang ada di Unesa ini.

Untuk mengetahui pendapat mahasiswa lingkup FISH, klik link di bawah ini
PEMIRA UNESA 2018