Prodi Ilmu Komunikasi Undang Sutradara Film “Surat Kecil Untuk Tuhan”

Bertajuk “Film dan Visualisasi Ide” Prodi Ilmu Komunikasi UNESA mendatangkan  Harris Nizam dan Reny Budilestari untuk membagikan ilmunya pada mahasiswa Ilmu komunikasi Unesa pada hari Senin (26/03) di Gedung I6 fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Harris Nizam adalah seorang produser dan sutradara Alleta Pictures, karya terkenalnya yakni Surat Kecil Untuk Tuhan, film berdasarkan kisah nyata yang bercerita  perjuangan gadis pengidap kanker dan film mengenai pramuka berjudul Hasduk Berpola. Sedangkan Reny Budilestari adalah dosen Insititut Kesenian Jakarta sekaligus dosen dari Harris Nizam. Kegiatan ini diadakan agar mahasiswa mendapatkan kuliah langsung dari praktisi perfilman.

Reny banyak menjelaskan mengenai proses pembuatan film terutama pembuatan film oleh mahasiwa- mahasiswanya. Bahkan Reny mengatakan bahwa dirinya adalah dosen pembimbing yang tidak pernah mundur dari mahasiswa meskipun mahasiswa yang dibimbingnya adalah mahasiswa yang tidak lulus- lulus, sontak pernyataan tersebut membuat peserta kuliah tamu tertawa.

Harris banyak bercerita mengenai pengalamannya selama menjadi produser dan sutradara, pembawaanya yang santai dan humoris menjadikan kuliah tamu terasa menarik dan menyenangkan. Harris juga meminta mahasiswa untuk menvisualisasikan naskah filmnya. Harris meminta 2 mahasiswa untuk membayangkan adegan yang dibuat saat membaca naskahnya dan menjelaskanya dengan detail lalu 2 mahasiswa lainya memperagakan sesuai penjelasan. Kegiatan tersebut membuat antusiasme peserta kuliah tamu bertambah. Apalagi naskah yang dibawa adalah naskah film pramuka berjudul Hasduk Berpola, salah satu karyanya yang rilis tahun 2013, karya yang memenangkan beberapa penghargaan seperti Film Inspiratif KEMENDIKBUD 2013 dan terpilih di  Educational Sceening Program IFF Melbourne 2015. Tentu kebanggaan Mahasiswa Ilmu Komunikasi bisa membaca naskah dan memerankan langsung di depan Sutradaranya.

Harris juga menceritakan proses pembuatan film Surat kecil untuk Tuhan dimana dia harus riset dan observasi selama 7 bulan mengenai kanker. Dia berpendapat bahwa sutradara adalah manusia paling pintar karena seorang sutradara terlebih dahulu harus mempelajari dan menguasai bidang apapun yang terkait dengan film yang akan mereka buat.

“sutradara itu manusia paling pintar, buat film tentang penyakit kanker belajar kanker, buat film tentang ekonomi belajar ekonomi, buat film tentang pramuka belajar pramuka, pintar kan ?” ujar Harris. Diakhir acara Harris berpesan kepada mahasiswa bahwa apapun karya yang ingin kita buat maka buatlah dengan hati bukan karena orientasi materi,maka karya kita pun akan diterima dengan “hati”. (Ikom/Hervina)