Membentuk Pendidikan Karakter Melalui Kearifan Lokal


Jurusan S1 Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya hari ini (10/10) menggelar diskusi ilmiah nasioal bertajuk “Urgensi Pembelajaran Sejarah Lokal Dalam Pendidikan Karakter” di ruangan Srikandi, Gedung I6, FISH. Acara yang dimulai pada pukul 09.00 – 12.00 WIB ini membahas tentang peranan sejarah lokal dalam pendidikan karakter dan bagaimana sejarah lokal diajarkan dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Diskusi Ilmiah yang dihadiri oleh Prof. Dr. Wasino, M. Hum dari Universitas Negeri Semarang dan Dr. Umasih, M. Hum dari Universitas Negeri Jakarta menghasilkan metode metode belajar yang dapat digunakan oleh guru guna membelajarkan sejarah lokal yang dapat membentuk pendidikan karakter.

Prof. Dr. Wasino, M. Hum mengatakan sejarah lokal mengandung nilai-nilai yang penting untuk dapat dipahami oleh peserta didik, seperti nilai patriotisme atau sikap cinta tanah air, toleransi atau sikap saling menghargai perbedaan disekitar, dll. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Dr. Umasih, M. Hum yang menggambarkan proses pembelajaran sejarah sebagai proses internalisasi nilai-nilai yang mana nilai- nilai tersebut terkandung dalam sejarah lokal. Salah satu contoh sejarah lokal yang dapat memberikan pendidikan karakter adalah Kisah Sunan Kudus yang melarang umat Islam di Kudus untuk menyembelih sapi mengingat banyaknya umat beragama Hindu di daerah Kudus.

“Sejarah lokal yang hanya berbeda lingkup spasial dengan sejarah Nasional dipandang penting untuk dibelajarkan di sekolah mengingat identitas kelokalan generasi muda masa kini semakin tergerus arus globalisasi serta guna menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap jati diri daerahnya, sehingga diharapkan generasi muda masa kini mampu menyadari tinggi dan beragamnya budaya lokal yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Selain itu, sejarah lokal juga dapat melatih daya kritis peserta didik terhadap sejarah, meningkatkan apresiasi peserta didik terhadap peninggalan bersejarah, dan akhirnya mampu menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari Bangsa Indonesia yang memoliki rasa bangga dan cinta tanah air,” ujarnya.

Agar memiliki daya tarik yang kuat, maka sejarah lokal perlu dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan. Dr. Umasih, M. Hum menjelaskan guru dapat mengembangkan sejarah lokal dengan beberapa cara, diantaranya sejarah lokal disajikan dalam perspektif pendidikan, menarik hubungan dari sejarah lokal dengan sejarah Nasional, mengadakan kegiatan penjelajahan lingkungan, studi khusus tentang kesejarahan di lingkungan sekitar. Akan tetapi, dalam pembelajarannya sejarah lokal juga mempunyai beberapa masalah yang haris menjadi perhatian guru, yaitu jangan sampai sejarah lokal menempati porsi lebih besar dari sejarah nasional. Sejarah lokal bersifat komplementer.

“Dalam pengajaran sejarah lokal yang dititik beratkan adalah penyampaian nilai-nilai karakter yang penting bagi kehidupan peserta didik,” kata Umasih.

Kekhawatiran timbulnya etnosentrisme berlebihan dalam pembelajaran sejarah lokal akibat dari perspektif yang terkadang berbeda antara sejarah lokal dan sejarah nasional memang menjadi masalah bagi guru sejarah yang seringkali kebingungan menempatkan diri dalam pembelajaran disekolah. Disatu sisi ada kurikulum yang menjadi panduan, sedangkan disisi lain ada sejarah lokal yang perlu diajarkan guna memperkenalkan identitas lokal kepada peserta didik. Prof. Wasino dan Dr. Umasih menegaskan perbedaan tersebut justru menjadi peluang guna melatih daya kritis peserta didik. Guru dapat menggunakan metode problem based learning untuk melihat bagaimana peserta didik memandang satu peristiwa dari dua hal yang berbeda sehingga  mampu menumbukan kesadaran bahwa lokalitas mampu menjadi jalan menuju nasional. (Wulan/RN.Bayu Aji)