Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIPOL UNESA Raih Juara III Nasional di Kreasa Fest 2026 Lewat Kampanye Pelestarian Budaya Digital
fisipol.unesa.ac.id, Jakarta – Mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui ajang Kreasa Fest 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara pada 4–5 Juni 2026. Dalam kompetisi yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut, tim 4ACT Ilmu Komunikasi UNESA yang beranggotakan Immanuel Peneska Putra Deyo, Raymon Josua Lubis, Rina Meta Siagian, dan Zahra Naila Alkusna berhasil meraih Juara III pada cabang lomba PRASASTI (Perencanaan Strategi dan Aksi Komunikasi).
Dalam kompetisi tersebut, tim 4ACT mengangkat tema “Strategi Komunikasi dalam Menghadapi Krisis Budaya di Era Digital” dengan menyoroti fenomena menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal Nusantara. Berangkat dari kondisi tersebut, tim menghadirkan kampanye kreatif bertajuk “Reksantara” dengan tagline “Sukma Indonesia Ada di Anak Nusantaranya”. Kampanye ini dirancang sebagai strategi komunikasi untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan generasi muda terhadap nilai budaya dan sejarah Indonesia melalui pendekatan digital yang lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ketua tim 4ACT, Immanuel Peneska Putra Deyo, mengatakan bahwa kampanye Reksantara lahir dari keresahan terhadap semakin berkurangnya keterikatan generasi muda dengan budaya lokal di tengah derasnya arus budaya global. Menurutnya, pendekatan komunikasi yang kreatif dan dekat dengan keseharian anak muda menjadi kunci untuk menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap identitas budaya bangsa.
“Melalui Reksantara, kami ingin menunjukkan bahwa budaya dan sejarah Indonesia tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat hadir sebagai bagian dari kehidupan generasi muda saat ini. Kami percaya bahwa media digital dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menghubungkan anak muda dengan akar budayanya melalui cara yang lebih menarik, interaktif, dan relevan,” ujar Immanuel.
Melalui karya yang dikembangkan, tim 4ACT mengidentifikasi bahwa banyak generasi muda saat ini lebih mengenal budaya populer global dibandingkan budaya lokal di daerahnya sendiri. Selain itu, berbagai kawasan bersejarah di Indonesia, termasuk di Kota Surabaya, kerap dipandang hanya sebagai lokasi berfoto, berburu kuliner, atau tempat berkumpul tanpa memahami nilai historis yang terkandung di dalamnya.Untuk menjawab permasalahan tersebut, kampanye Reksantara dirancang dengan mengintegrasikan pemanfaatan media sosial, konten edukatif interaktif, aktivasi digital, serta kolaborasi dengan komunitas budaya dan studio perfilman mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIPOL UNESA angkatan 2025B, Fantasticom Studio. Kolaborasi ini bertujuan menghadirkan pengalaman belajar sejarah dan budaya yang lebih menarik, dekat, dan sesuai dengan karakteristik generasi muda serta pola konsumsi informasi di media sosial.
Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA dalam menerapkan ilmu komunikasi strategis untuk menjawab isu sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat. Tidak hanya menghasilkan gagasan yang kreatif dan inovatif, tim 4ACT juga mampu menawarkan solusi yang relevan terhadap tantangan pelestarian budaya di era digital melalui pendekatan komunikasi yang terencana dan berdampak.
Prestasi tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education/Pendidikan Berkualitas) melalui upaya edukasi budaya berbasis digital yang mendorong pembelajaran sepanjang hayat, serta SDG 11 (Sustainable Cities and Communities/Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian warisan budaya dan peningkatan kesadaran generasi muda terhadap identitas budaya lokal. Selain itu, kolaborasi yang dilakukan dalam kampanye Reksantara juga mencerminkan semangat SDG 17 (Partnerships for the Goals/Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara mahasiswa, komunitas budaya, dan pelaku kreatif dalam menjaga keberlanjutan budaya Indonesia di era digital.
Penulis: IPPD
Editor: NRA
Share It On: