Paradigma Berpikir Siswa Sejarah Berbasis Soal HOTS

Pendidikan merupakan leading sector pembangunan manusia. Oleh karena itu transformasi di bidang pendidikan sangat diperlukan. Di Indonesia, salah satu aspek transformasi pendidikan adalah aspek kurikulum. Kurikulum 2013 atau yang saat ini disebut dengan Kurikulum Nasional (Kurnas) merupakan hasil transformasi pendidikan modern Indonesia yang menuntut perubahan pola pikir peserta didik/siswa ke arah berpikir kritis dan kreatif.

Implementasi kurikulum tersebut salah satunya adalah berupa HOTS (High Order Thinking Skill), yakni skill atau model berpikir tingkat tinggi melalui serangkaian pembelajaran berwawasan metakognitif. Oleh karena itu pada tanggal 4-5 Agustus 2018 Tim PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) Jurusan Pendidikan Sejarah FISH UNESA mengadakan Pelatihan Penyusunan Soal Sejarah Berbasis HOTS di Gedung i7.02.06 Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, UNESA.

Pemateri pada acara tesebut adalah dosen-dosen Pendidikan Sejarah yang concern pada bidang keilmuan pendidikan diantaranya adalah Dr. Agus Suprijono M.Si, Dra. Sri Mastuti Purwaningsih, M.Hum, dan Corry Liana, S.Pd, M.Pd. Sedangkan para peserta pelatihan diantaranya adalah para guru alumni Pendidikan Sejarah UNESA serta mahasiswa Pendidikan Sejarah tingkat akhir.

Sesi pertama pelatihan ini dimulai dengan materi Landasan Filsafat dan Teori Evaluasi yang disampaikan oleh Dr. Agus Suprijono. Dua tema materi itu sangat penting bagi guru maupun calon guru untuk memahami teori dan filsafat kurikulum dalam implementasi konsep pembelajaran di sekolah. Kurikulum 2013 dibentuk atas berbagai aliran filsafat yang ada. “Ada 3 tujuan pokok dari learning and innovation skills, yakni Berpikir kritis dan mengatasi masalah, komunikasi dan kolaborasi, serta kreativitas dan inovasi. Tujuan pendidikan kritis adalah merebut kembali kemanusiaan manusia (humanisasi) setelah mengalami dehumanisasi,” tuturnya.

Pada sesi kedua, Sri Mastuti memberikan materi berupa bagaimana cara berpikir kritis dan bagaimana cara pembuatan soal HOT. Dua hal tersebut akan berimplikasi pada kemampuan untuk melakukan inovasi pembelajaran, bagaimana cara menghidupkan suasana pembelajaran yang kreatif, bagaimana menstimulus siswa/peserta didik untuk selalu berpikir kritis dan sebagainya. Setelah itu Mastuti memberikan contoh soal HOTS, kartu soal HOTS, instrumen dan kisi-kisi HOTS dimana para peserta diberikan PR untuk membuat satu soal HOTS dalam bentuk pilihan ganda dan satu soal HOTS dalam bentuk uraian.

Selanjutnya Corry Liana selaku pemateri ketiga memberikan penguatan dan praktek pembuatan soal HOTS. Di akhir sesi ini para peserta dibentuk menjadi beberapa kelompok untuk kemudian mempresentasikan hasil tugasnya dan didiskusikan bersama. (Hafid/RN)