MEMPERTAHANKAN BUDAYA DI TENGAH GEMPURAN GLOBAL ALA PETANI TEMBAKAU TEMANGGUNG


Temanggung menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di Indonesia, sehingga sektor ini menjadi unggulan dan penyangga ekonomi masyarakat Temanggung. Terletak di dataran tinggi yang dikelilingi Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Prau, Saat musim tembakau tiba, hilir mudik kendaraan membawa keranjang berisi tembakau kering menuju gudang tembakau menghiasi wilayah ini. Tak bisa dipungkiri, tembakau telah menjadi jantung perekonomian masyarakat Temanggung, bahkan masyarakat sekitar Temanggung.

Petani Tembakau di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung memiliki perspektif lain mengenai budidaya tembakau. Terletak di Lereng Timur Gunung Sumbing, Desa Legoksaari dikenal sebagai penghasil tembakau Srinthil, salah satu tembakau terbaik di Indonesia. Harga tembakau Srinthil tahun 2015 mencapai Rp 1 Juta/kg. Bagi petani di Desa Legoksari, budidaya tembakau bukan hanya soal menanam, merawat, dan memanen, tetapi juga budaya luhur yang terkandung di dalamnya. Dari awal penanaman sampai dengan panen tembakau tidak bisa dilepaskan dari unsur budaya luhur.

Adanya budaya yang bersanding dengan budidaya tersebut membuat M. Niky Nur Komaruddin, Eri Setyo Darmawan, dan Novita Ayu Kurnia Illahi, mahasiswa Progam Studi S1 Sosiologi Universitas Negeri Surabaya membuat penelitian yang berjudul “Emas Hijau yang Tak Dianggap: Kajian Sosiokultural di Negeri Tembakau Pada Era Trans Global”, melalui pendanaan dari Progam Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Sosial Humaniora dari Dikti.

Petani tembakau Desa Legoksari menggunakan kalender Pranoto Mongso dan Aboge sebagai penanggalan dalam pertanian tembakau. Ada beberapa hal yang harus dihindari oleh petani tembakau Desa Legosari dalam melakukan ritual budaya yang berkaitan dengan pertembakauan. Hal tersebut adalah Waton Tahun yang disesuaikan dengan kalender Aboge. Geblak atau hari meninggalnya orangtua petani tembakau;  Apese yang didasarkan pada pasaran jawa; dan Pupak Puser adalah hari lepasnya tali pusar petani

Pada awal masa tanam tembakau, petani melakukan budaya Nyecel atau Lekas Macul sebagai pertanda awal pengolahan lahan. Setelah itu, dilanjutkan dengan ritual Among Tebal sebagai pertanda awal menanam tembakau. Pada awal masa panen petani melakukan Miwiti sebagai pertanda untuk mengawali petik daun tembakau. Ritual selanjunya adalah tugguk yang dilakukan pada saat pertengahan masa panen. Ritual tersebut dilakukan oleh petani sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Petani Tembakau Desa Legoksari juga dikenal sebagai petani yang memiliki jiwa gotong royong yang tinggi. Hal ini terlihat dari setiap kali ada yang melakukan panen tembakau, maka tetangga sekitar akan membantu dengan sukarela. Selain itu juga dikenal istilah Sewu Selawe.

 “di desa kami dikenal dengan sewu selawe (1025). Sewu selawe iki pendapatan petani tembakau per seribu rupiah, itu mereka menyisihkan Rp25 untuk pembangunan desa.Jadi kalau dapat Rp1 juta, disisihkan berapa (?)Rp25 ribu.Dimasukkan ke kas desa untuk pembangunan desa, kemslahatan desa.Hanya tinggal ngalikan saja, kalau Rp10 juta, jadi dapat Rp250 ribu.Ini dilakukan dengan penuh kesadaran.” Jelas Sutopo, selaku Kepala Dusun Lamuk Legok.

Dalam melakukan pelestarian budaya, petani Desa Legoksari sudah mengenalkan budaya tersebut kepada anak mereka sejak kecil. Selain itu, juga melalui sosialisasi dari tetangga atau saudara. Petani Desa Legoksari juga memiliki Tari Srinthil yang berisi tentang kehidupan petani Desa Legoksari dari awal tanam sampai dengan penjualan tembakau. Tari Srinthil juga merupakan bentuk eksistensi petani dalam menjaga tradisi luhur dari nenek moyang.

“yang muda-muda yang dari bapaknya, dari mbahnya. Kadang ya dari sharing-sharing ama temen-temen.Kan gini, mangsa mbako (sambil menekuk satu jarinya seperti berhitung), sudah mau masuk di bulan Agustus.Agustus meh mangsa karo ya? Kadang juga titen dengan cuaca kayak gini. Iki panas e kok saya ngene iki ya? Nek wis karo iki piye? Misalkan seperti itu. O…jek kurang pirang dino neh.” tutur Sutopo.

Masalah yang dihadapi oleh petani tembakau adalah terkait dengan cuaca dan regulasi import tembakau. Pada tahun 2016 dan 2017, saat cuaca kemarau basah, petani tidak dapat menghasilkan tembakau yang baik karena pada saat panen raya terjadi hujan sehingga daun tembakau yang dihasilkan menjadi tidak berkualitas. Selain itu, tantangan yang harus dihadapi adalah gempuran tembakau impor.