Melestarikan Cagar Budaya Jatim Bersama Pendidikan Sejarah Unesa

Pendidikan Sejarah – 10 delegasi mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya mengikuti kegiatan diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI ) di Hotel Ollino Garden, Malang (22-23/03). Diskusi Ilmiah yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh Arkeologi Nasional, para kepala SKPD Kebudayaan dan Pariwisata se – Kabupaten dan Kota Jawa Timur, kalangan komunitas dan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang dan Polteknik Malang. Acara tersebut dibuka langsung oleh Dr. H. Jarianto, M.Si., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Pada hari pertama kegitan diskusi diawali dengan pembahasan mengenai Pengantar Cagar Budaya dan Perkembangan serta Pelestariannya di Jawa Timur oleh Katua IAAI Pusat Dr. Wiwin Djuwita. Kemudian dilanjutkan dengan materi tentang peran museum dalam kegiatan pembelajaran sejarah di kelas yang dipaparkan oleh Dr. Agus Supridjono, M.Si. Menurut Agus kegiatan pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan di dalam kelas, tetapi akan lebih baik bila kegiataan pembelajaran juga dilakukan di lapangan seperti museum.  Jadi siswa dapat mengetahui secara langsung benda-benda sejarah seperti: artefak, tengkorak manusia purba, dan alat-alat pada zaman dahulu.

Prof. Dr. Dra. MG. Endang Sumiarni. SH, M.Hum menjadi pemateri ketiga yang membahas mengenai pengembangan dan pemanfaatan Cagar budaya.  Dalam pemaparannya Endang menjelaskan bahwa cagar budaya memiliki banyak fungsi, tidak hanya sebagai peninggalan bersejarah saja, tetapi juga sebagai keuntungan moneter, simbol integritas, legitimasi kehidupan politik, dll.

Pada hari Kedua kegiatan diskusi kembali dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang Cagar Budaya Maritim oleh Drs. Bambang Budi Utomo. Setelah itu dilanjutkan dengan materi tentang Pemanfaatan Cagar Budaya (Studi kasus kawasan Cagar Budaya Penanggungan) yang dijelaskan oleh Drs. Ismail Lutfi, MA. Ismail menjelaskan bahwa di Gunung Penanggungan terdapat banyak sekali peninggalan sejarah.

Pemanfaatan Lingga-Yoni sebagai objek wisata berwawasan lokal Banyuwangi merupakan materi berikutnya yang dijelaskan oleh Bayu Ari W. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa Banyuwangi merupakan salah satu bekas kerajaan Hindu-Buddha di Jawa timur yang mempinyai potensi sumber daya arkeologi yang sekarang telah dimanfaatkan kembali oleh masyarakat Jawa-Hindu yaitu lingga.

Pada hari kedua, Drs. Yohannes Hanan Pamungkas, MA., juga memberikan materi tentang The Song of Sri Tanjung yang merupakan hasil penelitiannya  bersama dengan Dr. Akiko Nozawa, Ph.D dari Nagoya University.  Kemudian dilanjutkan pemaparan materi oleh Adrian Perkasa, S.Hum, MA., tentang  Citizen,Civil Society and Heritage Making in Asia. Adrian menjelaskan mengenai daerah trowulan yang diduga menjadi pusat kerajaan Majapahit.

Kegiatan diskusi ilmiah kali ini merupakan momen yang spesial bagi IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) Komda Jatim, karena terdapat acara serah terima jabatan ketua IAAI komda Jatim.  Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FISH Unesa, Drs. Yohannes Hanan Pamungkas, MA yang menjadi Ketua IAAI Komda Jatim telah menyerahkan tonggak kepengurusannya kepada ketua yang baru, yaitu Drs. Ismail Lutfi, MA.

Penutupan diskusi tersebut ditandai dengan pembacaan rekom oleh Drs. Yohannes Hanan Pamungkas, MA. Ada 5 poin penting yang direkomendasikan dalam acara tersebut, salah satu diantaranya yaitu perlunya upaya publikasi dan promosi cagar budaya melalui berbagai media dan forum ilmiah. Di penghujung acara Drs. Ismail Lutfi, MA., yang menjadi Ketua IAAI Komda Jatim yang baru memberikan sambutan dan menutup acara diskusi yang telah berlangsung selama dua hari. (AI/Mas/Ina/RN)