Menjelajahi Sejarah di Ranah Publik

Perkembangan historiografi (penulisan sejarah) dan penelitian sejarah yang semakin berkembang menuntut para peneliti sejarah maupun sejarawan untuk selalu senantiasa memperbarui gaya dan praktik sejarah di ranah publik. Untuk itulah para sejarawan harus senantiasa berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat mulai dari komunitas sejarah, museum dan masyarakat dalam mempublikasikan sebuah narasi sejarah.

Hal ini disinggung dalam sebuah acara Bedah Buku yang berjudul “Sejarah Publik: Sebuah Panduan Praktis” karya Faye Sayer yang diterbitkan oleh Penerbit Ombak. Acara ini diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Unversitas Negeri Surabaya (Unesa) pada hari Senin (13/3/2018). Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni Adrian Perkasa, S.Hum., M.A (dosen prodi Ilmu Sejarah Unair dan anggota tim Cagar Budaya Jawa Timur) dan Henri Nurcahyo (Budayawan dan ahli Tradisi Lisan) dengan dimoderatori oleh dosen Pendidikan Sejarah unesa, RN Bayu Aji.

Adrian menuturkan bahwa dalam meneliti sebuah peristiwa masa lalu harus ada sumber yang valid. Tanpa ada sumber yang valid tentu sebuah narasi sejarah tersebut hanyalah fiktif belaka. Sumber tersebut bisa didapatkan dari berbagai hal, misalnya adalah wawancara dengan tokoh masyarakat sebagai sumber lisan. “Melaui Sumber lisan, narasi sejarah bisa lebih dekat dengan masyarakat dan praktik sejarah publik,” ujar Adrian.

Selain itu, elemen masyarakat dan komunitas sejarah bisa dijadikan sarana dalam mempertahankan sebuah eksistensi cagar budaya sebagai tetenger sejarah dan berbagai maca memori yang melekat. Adrian mencontohkan, ketika kawasan Trowulan akan dibangun pabrik baja pada tahun 2012. Ketika itu Adrian bersama teman-teman pemerhati sejarah bersama-sama menolak adanya penghancuran kawasan situs Trowulan dengan membuat petisi online. Petisi tersebut merupakan petisi pertama di Indonesia yang mengangkat tentang kebudayaan.

“Dalam praktiknya petisi tersebut berhasil menarik ratusan bahkan ribuan orang dari seluruh Indonesia untuk bersama-sama menolak penggusuran kawasan situs Trowulan. Dengan adanya sebuah kasus yang viral tersebut maka secara tidak langsung situs Trowulan sempat menjadi perhatian dari para pemerhati sejarah dunia saat itu,” cerita mantan cak Suroboyo tersebut.

Sementara itu, Henri Nurcahyo dalam diskusinya sempat membuka memori lama mengenai historiografi Indonesia pada masa Orde Baru. Pada masa Orde Baru, cerita sejarah dianggap sebagai “milik penguasa”. Siapapun dan apapun tulisan yang bertentangan dengan pemerintah saat itu langsung dicekal atau dibredel. Saat Orde Baru lengser, penafsiran sejarah pun ikut berubah. “Sejarah tidak hanya untuk para kalangan akademisi atau sejarawan, namun sejarah juga untuk publik”, kata Henri.

Tak lupa, Henri dalam ulasannya menekankan pentingnya sejarah lokal yang bisa memberikan tambahan alternatif interpretasi pada narasi sejarah. Salah satunya adalah dongeng dan hikayat masyarakat. Melalui sebuah dongeng atau hikayat, diharapkan bisa memberikan warna baru dalam dunia historiografi Indonesia. (Hafid/RN)