Lauching, Seminar Nasional, Olimpiade dan Penandatangan MOU Pendidikan IPS FISH UNESA


Program Studi Pendidikan IPS Fakutas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Surabaya, Minggu 8 Oktober 2017 mengelat serangkaian kegiatan secara bersamaan. Acara yang diinisisasi Program studi paling baru di FISH  ini, dimulai pukul 8.30 dengan Launching yang ditandai dengan pemutaran flash profil Oleh Dekan FISH, Prof. Sarmini, M.Hum. Dalam sambutannya, Dekan menekankan perlunya sinergi antara lembaga dengan guru IPS yang saat itu juga hadir dalam wadah Forum Guru IPS se-Jawa Timur. Acara yang juga menampilkan hiburan tarian tradisional dengan judul “Sisik Menik” itu, juga diikuti penandatanganan Program Studi Pendidikan IPS dengan Forum Komunikasi Guru IPS se-jawa Timur yang akan ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan. Sedangkan bersamaan dengan kegiatan seminar di ruang terpisah dilangsungkan olimpiade IPS SMP.

seperti diberitakan oleh Tribunnews.com seminar, yang membahas perubahan kurikulum dari KTSP menjadi K13 telah banyak memberikan perubahan kompetensi dasar pada pelajaran. Hal ini menjadi keluhan para guru dalam seminar “Peran Pendidikan IPS Menjawab Tantangan Global di Abad 21” di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (8/10/2017). Guru Besar Fakultas Pendidikan IPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Nana Supriatno pun menanggapi berbagai keluhan yang disampaikan guru anggota Forum Komunikasi Guru IPS Jatim ini. Menurutnya, kurikulum K13 memberikan penekanan pada pelajaran IPS agar terintegrasi. “Bukankah anak-anak akan bosan saat ada buku teks tapi pelajarannya diulang lagi. Kurikulum yang ada sekarang mengajak guru untuk lebih berimprovisasi,”ujarnya.Ia mengungkapkan, guru tidak harus menghabiskan waktu di luar. Karena di awal semester ada penyusunan pembelajaran. Di sini guru bisa menyusun strategi pembelajaran di luar kelas. “Bisa piknik ataupun keluar kelas agar bisa relevan materinya. Materi itu pengalaman belajar, bukan buku teks,”tegurnya.

Sementara itu, guru besar Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret, Prof. Hermanu Joebagio menambahkan percepatan menghadapi globalisasi harus dilakukan para guru. Sebab, anak-anak sekarang sudah melek teknologi.“Jadi dimanfaatkan kecanggihan anak dengan sesuatu yang baik. Harus didorong jadi manusia yang excellence. Beri anak kesempatan mengembangkan diri dengan pemberian tugas yang memanfaatkan teknologi,” paparnya.