GUS IPUL BERSUARA DI KULIAH UMUM SOSIOLOGI


Drs. H. Saifullah Yusuf atau yang sering disapa “Gus Ipul” memberikan kuliah umum dengan tema “Politik santri dalam membangun demokrasi” pada Program Studi Sosiologi Jurusan Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya pada hari Selasa, 14 Maret 2017.

Dalam kuliah umum itu Gus Ipul berpesan bahwa sebagai pemimpinan Jawa Timur ingin membuat berbagai hal lebih sempurna dalam pemerintahan.  Beliau juga menyampaikan selamat bagi mahasiswa Sosiologi UNESA yang ikut memajukan Jawa Timur dan Indonesia dengan mengikuti proses belajar di bangku kuliah di Program Studi Sosiologi UNESA. Gus Ipul mengupas bagaimana peran Cliffort Gertz dalam menghadirkan teori santri, priyayi dan abangan

Drs. H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) Wakil Gubernur Jawa Timur memberi Kuliah Umum

Prof Dr Zainudin Maliki, M.Si Memberikan Kuliah Umum dimoderatori Agus M Fauzi, M.Si

Masih menurut Gus Ipul, Santri itu dalam konteks Indonesia tidak eksklusif tetapi inklusif. Santri terbuka terhadap Pancasila, mengembangkan semangat berkebangsaan dan ke-Indonesiaan. Muncullah nasionalisme santri sebagai simbol awal munculnya perjuangan. Santri melalui proses politik melahirkan Indonesia yang baru, sebagai inspirasi negara-negara lain, bahwa mayoritas muslim bisa hidup berdampingan dengan keragaman yang ada.

Diakhir pidatonya Gus Ipul melakukan autokritik yaitu mampukah demokrasi mengatasi kesenjangan-kesenjangan sosial, kedua sektor formal kualitas Sumber Daya Manusia, ketiga infrastruktur yang banyak rusak. Mampu atau tidak demokrasi yang selama ini diagung-agungkan bisa mensejahterakan umat atau memberi solusi problem keumatan dan kebangsaan.

Prof Dr. Warsono, MS. sebagai rektor Universitas Negeri Surabaya memberi sambutan pembukaan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk Gus Ipul memberikan kuliah umum dengan perspektifnya sebagai santri yang terlibat aktif dalam membangun negeri, yang saat ini beliau menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur.

Kaprodi Sosiologi Dr. Sugeng Harianto, M.Si. Menyerahkan Kenang-Kenangan Untuk Nara Sumber

Selain Gus Ipul, Kaprodi Sosiologi Dr. Sugeng Harianto, M.Si. menghadirkan Prof. Dr. Zainudin Maliki, M.Si., Pakar Sosiologi politik dengan banyak karya akademisnya. Beliau dihadirkan untuk saling melengkapi kuliah umum dari Gus Ipul, sebab Prof Dr Zainudin Maliki, M.Si. adalah santri yang aktif dalam dunia akademis, berbeda dengan Gus Ipul sebagai santri yang terlibat langsung secara praktis dalam berdemokratisasi.

Prof Dr. Zainudi Maliki, M.Si. mengkritisi demokrasi Pancasila yang berjalan seperti demokrasi liberal. Beliau menyampaikan bahwa dalam demokrasi liberal yang berlaku adalah teorinya Darwin yaitu  kehidupan ini adalah arena perjuangan atau pertempuran atau disebut Struggle for live, sehingga manusia Indonesia harus siap bersaing, “yang survive adalah yang survival of fitness”, selanjutnya menjelaskan teorinya Marxis dihubungkan dengan mayoritas santri pada posisi informal.

Peserta Kuliah Umum Sosiologi Membludak

Vinna Alviatin Mahasiswa Sosiologi angkatan 2014 sedang bertanya (Rid)

Pada waktu dibuka proses dialog dengan para mahasiswa, Agus Machfud Fauzi, M.Si sebagai moderator kuliah umum memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta untuk megeksplorasi gagasan kuliah umum dengan membagi tiga sesi terhadap para mahasiswa untuk bertanya dan merespon dari narasumber. Salah satu yang bertanya Samsul Hadi, mahasiswa Prodi Sosiologi angkatan 2015, pertanyaannya , “ Mengapa para santri itu di masukkan dalam dunia politik, apakah santri tersebut bisa berdaulat dalam sistem demokrasi Indonesia, apakah tidak akan menghilangkan kesakralan ketika menggunakan santri tersebut, dan jika santri bener-bener memimpin suatu kursi di pemerintah atau parlemen dan ada yang kena kasus, itukan otomatis semua santri terkena dampaknya?”. Para mahasiswa lainnya aktif dan menikmati dengan berbagai pertanyaan yang hadir selanjutnya. (AMFi).