Dekonstruksi Makanan Khas Daerah di Era Pasar Bebas


“Kalau saya menjadi walikota Surabaya, maka saya tuntut mereka yang memakai branding makanan Surabaya, tidak boleh seseorang begitu mudah membawa nama Surabaya untuk produk makanannya”, kalimat tersebut disampaikan Drs. FX. Sri Sadewo, M.Si. pada diskusi Madzab Ketintang yang dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 10 Februari 2017.

Pada diskusi yang bertempat di Ruang Laboratorium Ilmu Sosil Gedung i5 tersebut, Agus M Fauzi, M.Si., sebagai koordinator Madzab Ketintang menjadi moderator, supaya diskusi berjalan dengan baik, berkesinambungan dengan tema-tema madzab ketintang yang selama ini telah berjalan, juga bisa mengawali tema besar 2017 tentang Globalisasi dan Pasar Bebas.

Diskusi Bulanan Madzab Ketintang ini menghadirkan Puspita Sari S, ST., M.Med.Kom, dosen Ilmu Komunikasi dengan mempresentasikan tema diskusi “Dekonstruksi makanan khas sebuah daerah”. Puspita mengawali dengan pembicaraan makanan tradisional Indonesia adalah segala jenis makanan olahan asli Indonesia, khas daerah setempat, mulai dari makanan lengkap, selingan dan minuman, yang cukup kandungan gizi, serta biasa dikonsumsi oleh masyarakat daerah tersebut.

Puspita mereferensikan papernya kepada Jacques Derrida yaitu makna sebuah teks harus dilebur secara horizontal demi menggali makna baru. Misalkan tentang oleh-oleh khas Surabaya, ada Almond Crispy Sambal Bu Rudy, Spikoe Resep Kuno, Kerupuk Ikan Kenjeran, Siropen Telasih, Abon Sapi Padmosusastro, Jenang dan Sirup Mangrove.  Dengan 3P, Penasaran, Pengalaman, Pelaporan (di Media Sosial). Ketiga hal itu sama pentingnya, dan pebisnis menangkapnya sebagai peluang bagus, menurutnya Dekonstruksi berawal di sini.

Aktifis Gender Refti Handini L., S.Sos., M.Si., memberi masukan bahwa selama ini yang bermasalah dengan makanan khas Indonseia packaging-nya, sehingga kurang menarik. Sedangkan Drs. Martinus Legowo, MA. mengkritisi strategi marketingnya kurang bagus sehingga makanan khas daerah tidak bisa diangkat ke publik. Legowo juga mengkritisi istilah dekonstruksi sebab akan membongkar persoalan yang seharusnya, ia konsepnya merusak kasatnya makanan tradisional, sehingga lebih baik mamakai istilah rekonstruksi saja. Akan lebih baik jika pemerintah memfasilitasi. Strategi 3 P yg disampaikan narasumber ditambahi menjadi 4 P, yaitu  Pemasaran, sehingga menjadi Penasaran, Pengalaman, Pelaporan dan Pemasaran untuk mendekonstruksi makanan khas daerah.

Gilang Gusti Aji., SIP., M.Si. melihat yang terjadi adalah culture imperialisme, budaya asing yang masuk ke Indonesia bisa berubah menjadi budaya kita, apalagi orang Indonesia cenderung inverior melihat budaya asing.

Dr. Ari Wahyudi, M.Si. memberikan contoh branding dunia bisnis, misalkan bunga gelombang cinta beberapa tahun yang lalu bukan membuatnya susah, teapi pencitraannya yg dibuatkan, sehingga sebetulnya pemikiran Derridra dan Foucoult menjadikan pos modern menjadi proses dekonstruksi makanan menjadi lebih menarik, dengan harapannya bisa menaikkan Pendapatan Asli Daerah sebuah daerah.

Putri Aisyiyah RD, S.Sos., M.Med.Kom mengakui bahwa Zaskia pandai membaca peluang karena Jawa Timur banyak Orang Kaya Baru (OKB), begitu juga dalam menggandeng potograper yg profesional, sehingga Snowcake Surabaya bisa diterima konsumen, meski dia bukan asli Surabaya. (AM Fauzi)