Pelatihan Jurnalistik: Menulis Berita Sejarah Populer di Laboratorium Pendidikan Sejarah UNESA


Hari Kamis, 8 November 2016 untuk pertamakalinya Laboratorium Pendidikan Sejarah FIS-H UNESA mengadakan sebuah pelatihan jurnalistik sesi 1 dengan judul “Menulis Sejarah Jurnalistik Populer”. Acara tersebut bertemakan“Menjadi Mahasiswa Yang Aktif, Kritis, dan Inovatif Dalam Dunia Literasi”. Dalam acara tersebut dibuka oleh Bapak Eko Satriya Hermawan, S.Hum, M.A selaku Pembina Bidang Referensi Laboratorium Pendidikan Sejarah UNESA. Sedangkan Bapak R.N Bayu Aji S.Hum, M.A selaku Pembina Bidang Museum Laboratorium Pendidikan Sejarah UNESA didaulat sebagai narasumber dan pemateri acara pelatihan jurnalistik sesi pertama tersebut serta dimoderatori oleh salah satu anggota Bidang Media Laboratorium Pendidikan Sejarah, Hafid Rofi Pradana. Pelatihan Jurnalistik adalah sebuah program kerja dari Bidang Media Laboratorium Pendidikan Sejarah UNESA untuk meningkatkan keilmuan akademis terutama di bidang jurnalistik serta tulis menulis dan acara ini akan dibagi menjadi beberapa sesi, yakni sesi pertama adalah Menulis Berita, sesi kedua adalah Resensi Buku dan yang terakhir, sesi ketiga dan keempat adalah Penulisan Opini.

Sebagai pembuka acara, Bapak Eko sangat mengapresiasi acara Pelatihan Jurnalistik kali ini. Menurutnya, Laboratorium Pendidikan Sejarah UNESA pada periode ini mampu membuat sebuah acara pelatihan jurnalistik yang berkelanjutan, artinya acara ini akan berlanjut sampai sesi yang keempat. Pelatihan jurnalistik ini sangat bermanfaat kedepannya karena akan menambah hardskill seorang mahasiswa kependidikan terutama di bidang kepenulisan, “Profesionalitas di bidang kepenulisan akan sangat berarti bagi masa depan mahasiswa apabila setelah lulus dari masa kuliahnya, terlebih lagi skill nenulis bisa menjadi modal awal bagi seseorang yang akan menjalani pekerjaan di bidang jurnalistik” lanjut pak Eko.

Kemudian masuk acara inti, bapak Rojil memberikan pemahaman mengenai dasar-dasar penulisan berita. Menurut beliau, dramatisasi di era berita kontemporer merupakan hal yang lumrah. Dramatisasi akan menambah rasa cita isi berita tersebut karena akan menarik perhatian orang untuk membaca sebuah berita. Perkembangan masyarakat sangat dinamis. Menurut Mochtar Lubis, pada awalnya berita itu hanya menjawab 4W (What, Where, When, Who). Namun sekarang menjadi 5W+1H (What, Where, When, Who, Why, and How). Berita dibagi menjadi beberapa jenis, seperti Spot News, Depth News, dan Precision Journalism. Spot News adalah sebuah laporan kejadian secara singkat, Depth News adalah jenis berita yang cukup kompleks, sedangkan Precision Journalism adalah sebuah aliran jurnalisme yang muncul pada tahun 1970-an. Setelah beliau menjelaskan mengenai dasar-dasar berita, kemudian beliau memberikan contoh-contoh mengenai berita sejarah populer dengan mengambil contoh dari berita historia.id .

Bagi pak Rojil, dalam menulis tidak ada jalan lain selain menulis. Dalam menulis, gaya bahasa itu penting. ”Jika ingin menulis berita ala Jawa Pos, sering-seringlah membaca koran Jawa Pos. Begitu pula dengan Kompas. Tidak ada cara lain selain meniru karena dalam melakukan sesuatu pasti kita selalu meniru”, imbuhnya. Selain itu pak Rojil memberikan sebuah motivasi,”modal awal menjadi penulis adalah menulis itu sendiri. Jika ingin menjadi penulis professional maka menulislah mulai dari sekarang entah itu menuli buku harian ataupun menulis status di media sosial”. (Hafid)