DISKUSI “MADZAB KETINTANG”: “JURNALISME, WARTAWAN, DAN KEKUASAAN”


Jurusan Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya telah lima kali menyelenggarakan Diskusi “Madzab Ketintang”. Dalam lima kali penyelenggaraan diskusi telah menghadirkan narasumber baik dari dalam maupun luar kampus. Pada tanggal 14 Oktober 2016 kemarin Diskusi Madzab Ketintang menghadirkan empat narasumber dari dalam dan luar kampus, yang sehari-hari berprofesi serbagai jurnalis dan dosen. Mereka adalah Dwi Eko Lokononto (Pemimpin Redaksi Berita Jatim.Com), Muhammad Toha (wartawan Forum Keadilan di Surabaya), Yovinus Guntur Wicaksono (Aliansi Jurnalis Independen Surabaya), dan Putri Aisyiyah (Dosen Ilmu Komunikasi). Diskusi yang dipandu oleh Awang Darmawan, dosen Ilmu Komunikasi, tersebut membahas tema “Jurnalisme, Wartawan, dan Kekuasaan.”  Kegiatan Diskusi Madzab Ketintang yang kelima ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial (Prodi Sosiologi dan Ilmu Komunikasi).

Dalam diskusi tersebut Dwi Eko Lokononto menjelaskan perkembangan media massa online. Berdasarkan pengalamannya mengelola media massa online Berita Jatim.Com., jurnalios yang biasa disapa mas Lucky tersebut menjelaskan bahwa perkembangan media massa bergeser dari media massa cetak mainstream ke media massa online. Media massa mainstream saat ini menghadapi tantangan cukup besar, yaitu perkembangan teknologi yang memberikan ruang bagi persebaran informasi melalui teknologi online. Masyarakat saat ini dihadapkan kepada banyak pilihan untuk mencari sumber informasi. Menurut Lucky, media massa online seperti Berita Jatim.Com mempunyai kelebihan, yaitu kecepatan dalam menyampaikan informasi tanpa harus menunggu pergantian hari.

Jovinus Guntur Wicaksono lebih banyak menyoroti kasus-kasus kekerasan yang menimpa wartawan dalam menjalankan profesi jurnalistiknya. Menurut mas Guntur, hingga saat ini banyak wartawan yang masih mengalami kekeranan, bahkan pada era reformasi kekerasan terhadap wartawan semakin meningkat. Kekerasan terhadap wartawan dalam kurun waktu 2006 – 2016 sebanyak 511 kasus. Dalam periode Januari – September 2016 telah terjadi kekerasamn terhadap wartawan sebanyak 14 kasus.  Mas Guntur mengambil contoh kasus kekerasan terhadap wartawan di Medan dan Madiun. Salah satu penyebabnya, menurut mas Guntur, adalah pemerintah dan aparat keamanan belum sepenuhnya memberikan perhatian dan rasa aman terhadap pers. Undang-undang Pers belum dijalanklan dengan baik.

Mohammad Toha, wartawan majalan Forum Keadilan, menjelaskan pada masa reformasi telah terjadi perkembangan yang luar biasa media massa cetak maupun non cetak. Namun, perkembangan yang pesat ini tidak diikuti oleh profesionalisme sesuai dengan kode etik jurnalistik yang berlaku. Menurut Toha, yang lebih parah adalah media massa sudah tidak berpihak kepada rakyat dan kebenaran di lapangan. Media massa seperti ini berusaha menutupi fakta sosial yang terjadi di lapangan. Sebagian besar media massa telah terjebak dalam politik praktis sebagai pembela pemerintahan yang ada.

Putri Aisyiyah, Dosen Ilmu Komunikasi, dalam paparannya menjelaskan bahwa saat ini telah terjadi konglomerasi media massa. Putri menunjukkan data bahwa sedikitnya ada enam grup perusahaan media. Salah satu grup perusahaan media itu adalah Grup Jawa Pos, yang mempunyai 151 perusahaan media media yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dr. Sugeng Harianto, M.Si., sebagai Ketua Jurusan Ilmu Sosial, dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa diskusi Madzab Ketintang ini sangat penting diselenggarakan secara rutin. Melalui diskusi ini civitas akademika dapat “membumikan” pemikiran-pemikiran dan temuan-temuan riset di forum ini. Menurut Sugeng, hakikatnya adalah membudayakan civitas akademika, terutama dosen dan mahasiswa, untuk menganalisis, bahkan mencari solusi, atas berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Menurut Sugeng, Diskusi Madzab Ketintang akan secara rutin diselenggarakan setiap bulan. Diskusi Mdzab Ketintang sendiri didirikan atas inisiatif dosen Jurusan Ilmu Sosial. Kelompok diskusi ini berdiri sejak bulan Maret 2016, dan hingga saat ini sudah berusia 8 bulan. Usianya memang masih relatif muda, namun dosen Jurusan Ilmu Sosial akan menjadi kelompok diskusi ini sebagai media untuk mendesiminasikan berbagai gagasan dan hasil riset secara berkelanjutan. (SH)