Gus Dur Intelektual Organik NU


Membicarakan Sosok Abdurrahman Wahid yang akrab disapa dengan Gus Dur memang tidak ada habisnya. Cucu dari Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama (NU) ini merupakan aktor intelektual NU yang fenomenal di zamannya. Oleh sebab itu, NU dan Gus Dur bagaikan mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

“Pada masanya Gus Dur dalam perjalanan sejarah bangsa dan juga NU memiliki peran sebagai intelektual organik yang merumuskan berbagai konsep pemikiran untuk diaplikasikan pada level gerakan, baik melalui NU, pesantren, maupun Forum Demokrasi,” ujar Prof. Warsono dalam bedah bukunya yang berjudul Gus Dur Intelektual Organik Tradisional, di Aula Srikandi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Selasa (11/10/16).

Prof Warsono, yang juga merupakan rektor Unesa ini melihat Gus Dur sebagai intelektual organik tradisional melalui perspektif Gramscian. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Gus Dur sebagai intelektual NU, seorang kiai yang kerap sekali berhadapan dengan dominasi negara.

“Gus Dur dengan wacana dan gerakannya di akar rumput menjadi penyeimbang tatkala negara terlalu dominan terhadap civil society (masyarakat sipil). Masyarakat sipil dalam pandangannya harus dikuatkan dalam perjalanan demokrasi di Indonesia sehingga tidak ada dominasi negara yang kemucian cenderung mengarah ke arah milteristik,” terangnya.

Dalam acara bedah buku ini, hadir pula adik dari Gus Dur yakni, KH Salahudin Wahid atau yang akrab dipanggi Gus Solah. (RN Bayu Aji/Ryd)